Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Advertisements

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Cinta Menulis? Semoga. 


Sudah hampir setengah tahun saya tidak mengurai kata-kata dalam tulisan. Seakan terasa buntu dalam otak ini. Semisal alat tajam, mungkin udah mulai tumpul. 

Tak perlu saya sebutkan alasan mengapa saya lama tak menulis. Pada intinya, saya masih belum bisa mengatur waktu di atas terjangan tanggungjawab. 

Di sela sela waktu ini, kiranya saya ingin memulai kembali merangkai kata walau hanya sebatas tulisan sederhana. Ya, tulisan yang mungkin hanya selevel anak SMA. Dan, bisa jadi lebih rendah. 

Sebenarnya, semua aktifitas baik akan dapat diperoleh dengan sempurna jika dilakukan dengan konsisten. Konsistensi dalam segala aktifitas akan membentuk sebuah watak. Dengan indikasi ia akan merasa ada yang kurang jika tak melakukannya. 

Begitupun dalam menulis, jika ia melakukannya dengan konsisten, maka akan hadir dalam dirinya rasa gelisah jika tidak melakukannya walau hanya sesaat. 

Namun, hal ini juga berlaku pada yang buruk. Jika ia melakukannya dengan rutin, maka jangan heran ketika ia ketagihan. 

Hidup adalah sebuah perjalanan untuk memilih. Segala potensi telah diberikan. Hanya tinggal bagaimana kita menanggapinya. Memilih konsisten pada yang baik, atau sebaliknya. 

Nah, menulis, masih belum menjadi sebuah watak dalam diri saya. Sekali lagi, ini tentu karena saya masih belum bisa melakukannya dengan konsisten. Seambrek tanggungjawab sebenarnya bukan menjadi alasan untuk tidak menulis. Jika ia memang sudah merasa cinta padanya. 

Karena Tuhan Memberikan Yang Terbaik Untuk Hambanya

Kuliah hari ini terasa melelahkan. Seumpama tubuh ini terangkai atas beberapa baot, mungkin sudah kendur. Sebagaimana motor yang terlalu sering dipakai. Terlalu hiporbolis bukan? Ups. Tak apalah. Karena memang begitu adanya. 

Ya, dalam satu minggu ini kesibukan begitu bertubi-tubi. Mulai dari tugas di pesantren, hingga tugas di luar. Selama tiga hari menjalankan tugas di kampung halaman, kembali ke pesantren langsung disambut dengan rapat ujian. Sementara akhir pekan ditutup dengan aktivitas kuliah seharian. 

Sebenarnya, dalam menjalani aktivitas sehari-hari, Paling tidak ada dua prinsip yang selama ini saya pegang teguh. Pertama adalah untuk mengabdi. Dan kedua, menjadikan semua aktivitas sebagai pembelajaran. Karena, kini saya hidup di dunia miniatur. Seluruhnya saya anggap sebagai wahana belajar untuk kemudian dipraktekkan dalam dunia sesungguhnya di masyarakat. 

Banyak orang mengakatan, bahwa kalau sudah menjadi sarjana harus menjadi begini dan begitu. Tak terkecuaili orang-orang di kampung halaman. Mereka menganggap bahwa kalau sudah selasai kuliah sudah pasti jadi guru, pejabat, dan orang-orang berpakaian rapi lainnya.  Betapa menjadi bebannya omongan-omongan itu bagi saya. Artinya, bagaimana seandainya saya tidak menjadi seperti orang-orang yang mereka omongkan itu. Tentu mereka akan berfikir negatif. Bahkan, bisa jadi mereka akan mengurungkan niatnya untuk menguliahkan anaknya.  

Paradigma orang awam. Ya, mereka belum begitu paham bahwa esensi kuliah sebenarnya adalah untuk mencari ilmu. Sementara profesi tak lepas dari takdir Tuhan. Karena, terkadang yang tak kuliah pun bisa menjadi pejabat sementara yang kuliah tidak. 

Ah,  saya tak perlu terlalu memikirkan beban itu. Saya harus tetap memegang dua prinsip itu. Apa yang menjadi aktifitas saya saat ini, itulah yang harus saya lakukan. Persoalan menjadi apa saya nanti, saya serahkan kepada Tuhan. Karena saya tetap yakin, bahwa Dia akan memberikan terbaik untuk hambanya.  

Perubahan Di Tangan Mahasiswa

Kampus sebagai Agent Of Change. Begitulah istilah yang selalu mengakar di dunia kampus. Persoalan tekstual,  istilah itu tak asing di telinga para mahasiswa. Bahkan melalui kakak seniornya, mahasiswa baru pun sudah dikenalkan dengan tujuan itu. Ya, Kampus sebagai agen perubahan.  Begitulah makna sederhananya.  

Berbicara masalah agen,  tentu kiatannya adalah menampung seambrek barang untuk dipasarkan.  Seperti agen minyak, menampung berliter-liter minyak untuk disalurkan ke berbagai toko eceren.  Begitupun kampus,  berarti menampung banyak mahasiswa untuk disalurkan ke berbagai daerah,  atau paling tidak di daerahnya sendiri. 

Sementara Perubahan,  berarti membawa perubahan dari tidak baik menjadi baik.  Atau dari baik menjadi lebih baik. Maka, kampus sebenarnya sebuah wahana untuk menampung mahasiswa agar dapat membawa perubahan di berbagai daerah.  Begitulah opini sederhana saya.  

Nah,  persoalan yang mengemuka saat ini, tak jarang mahasiswa yang masih belum dapat mengejawantahkan kata perubahan tadi dalam konteks kehidupan masyarakat.  Parahnya,  ia terkesan takut untuk berkecipung porsoalan tetek bengek dinamika kehidupan sosial.  Jika demikian,  siapakah yang salah?  Kampus, Mahasiswa, Atau mungkin masyarakatnya sendiri?  

Mengklaim sebuah kesalahan,  saya kira kurang bijak.  Sebab,  banyak antara tiga komponen itu yang saling mendukung, dan tak jarang yang juga saling bertolak belakang.  

Namun demikian,  sebenarnya yang paling menentukan dalam mewujudkan perubahan itu sendiri adalah mahasiswa.  Sementara kampus hanya memberi kunci, dan masyarakat sebagai ruangannya.  Jika mahasiswa telah mempunyai kunci ruangan itu,  maka tentu akan mudah untuk memasukinya.  Tapi, sekalipun mahasiswa telah mempunyai kunci,  namun tak ada niatan untuk masuk ruang itu,  maka jangan pernah berkata telah merasakan suhu di dalamnya.  

Dulu Kurus, Sekarang Tidak. 

Katanya, saya semakin gemuk. Dan, bukan hanya satu orang yang mengatakan. Tentunya banyak. Saya rasakan memang begitu. Seakan bagian dada semakin membentuk. 

Untuk lebih meyakinkan, terpaksa saya beranjak ke klinik pesantren. Di samping saat itu memang keadaan tubuh kurang sehat. Ya, bisa dibilang sakit. Walaupun sebenarnya hanya kecapean. 

Saat diperiksa oleh salah satu dokter, kalau tidak salah dokter Rus namanya, ternyata tak ada yang masalah. Mulai dari tekanan darah, suhu tubuh, bahkan detak jantung, semuanya normal. “Ustad hanya kecapean” klaim dokter itu seraya melepas tensi dari tangan saya. Ternyata, Dugaan saya tepat. Tapi, dokter itu pun tetap memberikan resep obat. Lengkap dengan aturan minumnya. 

Setelah bangun dari tempat tidur pasien, saya melihat ada timbangan badan. Tepatnya di pojok meja. Tanpa berpikir panjang, saya langsung manaiki timbangan itu. Allamak, ternyata benar. Berat tubuhku bertambah lima kilo gram. Yang dulunya 55kg, bertambah menjadi 60kg.

Nah, rasa heran semakin menguat. Tentu saya harus cari penyebabnya. Paling tidak perbandingan dalam dua tahun terakhir. 

Setelah sedikit direnungkan, ternyata dulu kurus, karena faktor terlalu banyak pikiran. Mengingat dari sisi makanan jumlahnya sama. Yakni dua kali dalam sehari. Hal ini sesuai dengan yang diberitakan oleh TRIBUNNEWS.COM bahwa penyebab badan kurus adalah faktor stres. Stres dapat menyebabkan sel lemak putih menjadi lemak coklat pembakar energi. Jadi, sekalipun makannya banyak, sulit untuk menjadi gemuk. Mungkin begitulah yang dulu saya alami. 

Nah, jika ditanya apa kira-kira yang membuat saya banyak pikiran. Mungkin akan saya tulis pada kolom-kolom berikutnya.